Harga Minyak Dunia Menguat di Tengah Ketegangan AS-Iran dan Data Ekonomi Amerika Serikat
- Kamis, 12 Februari 2026
JAKARTA - Harga Minyak Dunia Menguat di Tengah Ketegangan AS-Iran dan Data Ekonomi Amerika Serikat
Pergerakan harga minyak dunia kembali menarik perhatian pelaku pasar global pada pertengahan Februari 2026. Sentimen geopolitik dan data ekonomi Amerika Serikat menjadi kombinasi utama yang mendorong fluktuasi harga energi di pasar internasional.
Pada perdagangan Kamis pagi, 12 Februari 2026, harga minyak tercatat menguat. Kenaikan ini dipicu oleh kekhawatiran investor terhadap meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran.
Baca JugaMendag Laporkan 149 Pasar Terdampak Bencana Kembali Beroperasi
Di sisi lain, lonjakan stok minyak mentah AS yang dilaporkan lebih tinggi dari perkiraan sempat menahan laju penguatan harga. Namun, sentimen geopolitik yang berkembang terbukti lebih dominan dalam memengaruhi psikologi pasar.
Mengutip Reuters, harga minyak Brent naik 34 sen atau 0,49 persen ke level US$69,74 per barel. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS menguat 37 sen atau 0,57 persen ke posisi US$65,00 per barel.
Kedua kontrak acuan tersebut juga ditutup menguat pada Rabun, 11 Februari 2026. Brent tercatat naik 0,87 persen dan WTI melonjak lebih dari 1,05 persen.
Kenaikan tersebut terjadi seiring kekhawatiran pasar terhadap dinamika hubungan AS-Iran yang membayangi kabar kenaikan persediaan minyak mentah AS. Investor cenderung memprioritaskan risiko geopolitik ketimbang faktor fundamental jangka pendek.
Ketidakpastian arah kebijakan luar negeri AS kembali menjadi faktor utama yang diperhitungkan pelaku pasar energi. Hubungan Washington dan Teheran yang belum menemukan titik terang membuat pasar tetap waspada.
Dalam konteks ini, setiap pernyataan resmi dari pejabat tinggi kedua negara berpotensi memicu pergerakan harga minyak secara signifikan. Hal tersebut menjadikan pasar energi sangat sensitif terhadap perkembangan diplomatik terbaru.
Ketegangan AS-Iran Jadi Faktor Utama Pergerakan Harga
Usai bertemu Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, Presiden AS Donald Trump mengatakan belum ada kesepakatan final terkait langkah lanjutan terhadap Iran. Meski demikian, Trump menegaskan negosiasi dengan Teheran akan terus berlanjut.
Pernyataan tersebut langsung memicu spekulasi di pasar bahwa potensi eskalasi konflik masih terbuka. Investor pun bersikap lebih berhati-hati dalam membaca arah pasokan energi global.
Sebelumnya, Trump menyatakan tengah mempertimbangkan pengiriman kapal induk kedua ke Timur Tengah apabila kesepakatan dengan Iran tidak tercapai. Pernyataan itu muncul di tengah persiapan Washington dan Teheran untuk melanjutkan perundingan.
Langkah ini dinilai dapat meningkatkan tensi geopolitik di kawasan yang menjadi salah satu pusat produksi minyak dunia. Risiko gangguan pasokan pun kembali menjadi sorotan pelaku pasar.
Pekan lalu, diplomat AS dan Iran menggelar pembicaraan tidak langsung di Oman. Namun hingga kini, jadwal dan lokasi putaran lanjutan perundingan belum diumumkan secara resmi.
Ketidakjelasan ini menambah ketidakpastian yang sudah membayangi pasar minyak sejak awal tahun. Situasi tersebut membuat investor lebih berhati-hati dalam memproyeksikan arah harga dalam jangka pendek.
Pasar juga mencermati kemungkinan perubahan kebijakan sanksi yang dapat memengaruhi ekspor minyak Iran. Setiap sinyal pelonggaran atau pengetatan sanksi berpotensi memicu lonjakan atau penurunan harga secara cepat.
Dalam kondisi seperti ini, harga minyak cenderung bergerak fluktuatif mengikuti perkembangan politik internasional. Hal ini menjadikan faktor geopolitik sebagai katalis utama di tengah lemahnya sentimen fundamental lainnya.
Analisis Pasar dan Proyeksi Pergerakan Harga
Analis IG Tony Sycamore mengatakan penguatan berkelanjutan di atas level US$65–US$66 per barel pada WTI membutuhkan eskalasi lebih lanjut di Timur Tengah. Menurutnya, pasar masih memerlukan katalis yang lebih kuat untuk mempertahankan momentum kenaikan.
Sebaliknya, Sycamore menilai meredanya ketegangan dapat memicu aksi ambil untung. Kondisi tersebut berpotensi menyeret harga kembali ke kisaran US$60–US$61 per barel.
Pernyataan ini mencerminkan sikap pasar yang masih berhati-hati. Investor tidak hanya mempertimbangkan faktor geopolitik, tetapi juga dinamika permintaan dan pasokan global.
Dalam beberapa pekan terakhir, volatilitas harga minyak relatif meningkat. Hal ini dipengaruhi oleh kombinasi faktor geopolitik, kebijakan moneter, serta perkembangan ekonomi global.
Pelaku pasar juga terus mencermati langkah OPEC+ dalam mengatur produksi minyak. Kebijakan produksi yang ketat atau longgar dapat memengaruhi keseimbangan pasar secara signifikan.
Namun dalam jangka pendek, isu hubungan AS-Iran tampaknya masih menjadi faktor dominan. Selama ketegangan belum mereda, harga minyak berpotensi tetap bertahan di level yang relatif tinggi.
Ketidakpastian tersebut membuat investor cenderung mengambil posisi jangka pendek. Strategi perdagangan pun lebih banyak bersifat spekulatif ketimbang berbasis fundamental jangka panjang.
Dengan demikian, pasar minyak global diperkirakan akan terus bergerak dinamis. Perkembangan politik dan diplomatik di Timur Tengah tetap menjadi faktor utama yang menentukan arah harga.
Data Ekonomi AS Dorong Ekspektasi Permintaan Energi
Di sisi lain, data ekonomi AS turut menopang ekspektasi permintaan energi. Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan pertumbuhan lapangan kerja Januari meningkat tak terduga dan tingkat pengangguran turun menjadi 4,3 persen.
Data tersebut mencerminkan ketahanan ekonomi Negeri Paman Sam. Kondisi ini memberi sinyal bahwa permintaan energi di AS berpotensi tetap kuat dalam waktu dekat.
"Ekonomi AS yang tangguh juga mendukung ekspektasi permintaan minyak," ujar Kepala Riset Energi dan Kimia China Futures, Mingyu Gao. Pernyataan ini menunjukkan bahwa faktor makroekonomi masih menjadi penopang harga minyak.
Pertumbuhan ekonomi yang stabil biasanya diikuti peningkatan aktivitas industri dan transportasi. Hal ini pada akhirnya berdampak pada konsumsi bahan bakar dan energi secara keseluruhan.
Pelaku pasar menilai data tenaga kerja AS menjadi indikator penting dalam memproyeksikan permintaan energi global. Kinerja ekonomi AS sering kali menjadi barometer bagi tren ekonomi dunia.
Selain itu, stabilnya pasar tenaga kerja juga berpotensi mendorong belanja konsumen. Peningkatan konsumsi ini dapat berimbas pada naiknya permintaan energi di berbagai sektor.
Namun, investor tetap berhati-hati dalam menafsirkan data tersebut. Pasar menyadari bahwa faktor fundamental seperti persediaan minyak juga memainkan peran penting dalam menentukan arah harga.
Dengan demikian, data ekonomi AS menjadi salah satu faktor pendukung, tetapi bukan satu-satunya penentu pergerakan harga minyak dunia.
Lonjakan Stok Minyak AS Menahan Kenaikan Harga
Meski demikian, kenaikan harga tertahan oleh lonjakan besar stok minyak mentah AS. Badan Informasi Energi (EIA) melaporkan persediaan minyak mentah AS naik 8,5 juta barel menjadi 428,8 juta barel pekan lalu.
Angka tersebut jauh melampaui ekspektasi analis dalam jajak pendapat Reuters yang memperkirakan kenaikan hanya 793 ribu barel. Lonjakan ini menimbulkan kekhawatiran mengenai potensi kelebihan pasokan di pasar domestik AS.
Peningkatan persediaan biasanya menjadi sinyal melemahnya permintaan atau meningkatnya produksi. Dalam konteks ini, data EIA sempat menahan laju penguatan harga minyak dunia.
Namun, sentimen geopolitik yang lebih kuat membuat dampak data persediaan tersebut menjadi relatif terbatas. Investor lebih fokus pada risiko pasokan global daripada kelebihan stok jangka pendek.
Meski demikian, lonjakan stok tetap menjadi faktor yang tidak bisa diabaikan. Jika tren peningkatan persediaan berlanjut, tekanan terhadap harga minyak dapat semakin besar.
Pasar juga mencermati data mingguan persediaan sebagai indikator penting keseimbangan pasokan dan permintaan. Setiap perubahan signifikan berpotensi memicu pergerakan harga yang tajam.
Gao menilai sejak awal tahun kenaikan persediaan minyak global umumnya masih di bawah ekspektasi. Selain itu, posisi beli bersih atau net long pada kontrak berjangka dan opsi minyak mentah global belum berada pada level jenuh beli.
Hal ini menunjukkan bahwa ruang bagi kenaikan harga masih terbuka. Namun, pasar tetap waspada terhadap potensi pembalikan arah jika faktor fundamental mulai mendominasi.
Prospek Harga Minyak di Tengah Ketidakpastian Global
Kombinasi antara ketegangan geopolitik, data ekonomi positif, dan lonjakan persediaan menciptakan dinamika pasar yang kompleks. Investor harus mempertimbangkan berbagai faktor sebelum mengambil keputusan investasi di sektor energi.
Dalam jangka pendek, risiko geopolitik diperkirakan masih menjadi faktor dominan. Setiap perkembangan terkait hubungan AS-Iran berpotensi memicu fluktuasi harga minyak secara signifikan.
Di sisi lain, data ekonomi AS yang solid memberi harapan terhadap stabilitas permintaan energi. Hal ini membantu menjaga harga minyak tetap berada di level yang relatif kuat.
Namun, lonjakan stok minyak mentah AS menjadi pengingat bahwa faktor fundamental tidak bisa diabaikan. Kelebihan pasokan dapat menjadi tekanan bagi harga jika tidak diimbangi dengan peningkatan permintaan.
Pasar juga terus memantau kebijakan produksi negara-negara produsen utama. Keputusan OPEC+ terkait kuota produksi akan sangat menentukan arah harga dalam jangka menengah.
Selain itu, perkembangan ekonomi global, termasuk kebijakan suku bunga dan inflasi, turut memengaruhi prospek permintaan energi. Faktor-faktor ini akan terus menjadi perhatian pelaku pasar.
Dengan kondisi pasar yang penuh ketidakpastian, volatilitas harga minyak diperkirakan tetap tinggi. Investor cenderung bersikap hati-hati sambil menunggu kejelasan arah kebijakan dan perkembangan geopolitik.
Dalam situasi seperti ini, pergerakan harga minyak dunia akan terus menjadi indikator penting bagi kondisi ekonomi global. Ketegangan politik, data ekonomi, dan faktor fundamental akan terus saling berinteraksi dalam menentukan arah pasar energi.
Zahra
indikatorbisnis.com adalah media online yang menyajikan berita sektor bisnis dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.
Rekomendasi
Hasil Liga Inggris: Liverpool Menang Tipis dan "Beruntung" Saat Menghadapi Sunderland
- Kamis, 12 Februari 2026
Prediksi Pisa vs AC Milan: Pertarungan Sengit di Hari Valentine Serie A 2026
- Kamis, 12 Februari 2026
Serie A Pekan 24: Jadwal Padat dan Kondisi Kebugaran Pemain Menjadi Sorotan Utama
- Kamis, 12 Februari 2026
Berita Lainnya
Strategi Baru DKI Jakarta Amankan Pasokan Beras Jelang Ramadan Melalui Kolaborasi Petani Daerah
- Kamis, 12 Februari 2026
Pemerintah Perkuat Perlindungan Sawah dan Petani Kecil Melalui Pengendalian Alih Fungsi Lahan
- Kamis, 12 Februari 2026
Pemerintah Dorong Proyek DME Batu Bara Disebut Wajib Libatkan Teknologi CCUS
- Kamis, 12 Februari 2026
Harga Minyak Dunia Menguat Dipicu Ketegangan Amerika Iran Dan Dinamika Pasokan Global
- Kamis, 12 Februari 2026












