Harga Nikel Global Melonjak Usai Indonesia Pangkas Kuota Produksi Tambang Terbesar Dunia Tahun 2026
- Kamis, 12 Februari 2026
JAKARTA - Harga Nikel Global Melonjak Usai Indonesia Pangkas Kuota Produksi Tambang Terbesar Dunia Tahun 2026
Pasar logam dunia kembali bergerak dinamis setelah kabar kebijakan produksi dari Indonesia memicu perubahan sentimen investor. Pergerakan ini terutama terlihat pada harga nikel yang mencatat penguatan signifikan di awal perdagangan Asia.
Pada Kamis, 12 Februari 2026, harga nikel tercatat menguat setelah Indonesia memangkas tajam kuota produksi tahun ini untuk PT Weda Bay Nickel. Tambang tersebut dikenal sebagai tambang nikel terbesar di dunia untuk mineral kritis ini.
Baca JugaMendag Laporkan 149 Pasar Terdampak Bencana Kembali Beroperasi
Kebijakan pemangkasan kuota produksi tersebut langsung menjadi perhatian pelaku pasar global. Investor menilai langkah ini berpotensi memengaruhi pasokan nikel dunia dalam jangka pendek.
Dalam situasi seperti ini, pasar cenderung bereaksi cepat terhadap sinyal perubahan produksi. Dampaknya, harga kontrak nikel di berbagai bursa utama langsung mengalami kenaikan.
Melansir Reuters, kontrak nikel paling aktif di Shanghai Futures Exchange melonjak 2,49 persen ke 140.570 yuan atau setara US$20.366,86 per ton pada pukul 02.50 GMT. Harga tersebut bahkan sempat naik hingga 3,14 persen pada sesi perdagangan sebelumnya.
Lonjakan tersebut mencerminkan respons pasar terhadap kabar terbatasnya pasokan. Pelaku pasar memandang kebijakan Indonesia sebagai faktor penting yang memengaruhi keseimbangan supply dan demand.
Sementara itu, kontrak acuan tiga bulan di London Metal Exchange juga mencatat kenaikan. Harga kontrak tersebut naik 0,70 persen menjadi US$17.990 per ton, melanjutkan kenaikan 2,23 persen pada Rabu.
Pergerakan di dua bursa utama ini menunjukkan bahwa sentimen positif terhadap nikel tidak hanya terjadi di pasar Asia. Kenaikan ini sekaligus menegaskan bahwa isu produksi di Indonesia memiliki dampak global.
Penguatan harga nikel menjadi sinyal bahwa pasar menilai kebijakan kuota produksi sebagai faktor krusial. Investor pun mulai memperhitungkan potensi kelangkaan pasokan dalam beberapa bulan ke depan.
Kondisi ini turut memengaruhi strategi pelaku industri yang bergantung pada nikel, khususnya sektor kendaraan listrik dan baja tahan karat. Kenaikan harga nikel berpotensi meningkatkan biaya produksi dalam jangka menengah.
Pemangkasan Kuota Weda Bay Nickel dan Dampaknya
Perusahaan tambang asal Prancis, Eramet, pada Rabu menyatakan bahwa tambang di Indonesia tersebut memperoleh kuota awal sebesar 12 juta wet metric ton untuk 2026. Angka ini turun signifikan dari 32 juta wet metric ton pada 2025.
Penurunan kuota produksi yang cukup tajam tersebut menjadi faktor utama pendorong penguatan harga nikel. Pasar menilai pengurangan hampir dua pertiga dari tahun sebelumnya sebagai sinyal kebijakan yang cukup agresif.
Eramet mengatakan akan segera mengajukan revisi agar kuota dapat dinaikkan. Pernyataan ini memberi harapan bahwa pemangkasan produksi tersebut masih dapat berubah ke depannya.
Namun, hingga keputusan resmi diumumkan, pasar tetap memperhitungkan skenario pasokan yang lebih terbatas. Ketidakpastian ini membuat harga nikel cenderung bertahan di level yang lebih tinggi.
Tambang Weda Bay merupakan usaha patungan antara Eramet, raksasa nikel dan baja tahan karat China Tsingshan, serta PT Aneka Tambang Tbk yang didukung pemerintah Indonesia. Kolaborasi ini menjadikan Weda Bay sebagai salah satu proyek strategis dalam rantai pasok nikel global.
Sebagai salah satu tambang terbesar dunia, perubahan kebijakan produksi di Weda Bay memiliki dampak signifikan terhadap pasar. Setiap penyesuaian kuota dapat langsung memengaruhi persepsi investor terhadap ketersediaan nikel global.
Pemangkasan ini terjadi setelah media lokal melaporkan bahwa pemerintah Indonesia sejauh ini telah menyetujui total kuota produksi nikel sekitar 260 juta hingga 270 juta ton untuk 2026. Angka ini mencerminkan pendekatan yang lebih selektif dalam pengelolaan sumber daya mineral nasional.
Kebijakan tersebut dipandang sebagai bagian dari upaya pemerintah dalam menjaga keseimbangan antara eksploitasi sumber daya dan keberlanjutan industri. Di sisi lain, langkah ini juga berdampak langsung terhadap dinamika harga di pasar internasional.
Investor menilai kebijakan ini sebagai sinyal bahwa Indonesia semakin aktif mengatur produksi mineral strategis. Dengan posisi Indonesia sebagai produsen nikel terbesar dunia, setiap perubahan kebijakan memiliki dampak luas.
Pasar pun mulai memperkirakan potensi pergeseran alur perdagangan nikel global. Negara-negara konsumen utama kemungkinan harus menyesuaikan strategi pasokan mereka dalam beberapa waktu ke depan.
Respon Analis dan Proyeksi Harga Nikel
“Kabar ini telah mendongkrak sentimen pasar, dan harga diperkirakan tetap mendapat dukungan dalam jangka pendek,” ujar Natalie Scott-Gray, analis senior logam di StoneX, dalam sebuah catatan. Pernyataan tersebut mencerminkan optimisme terhadap pergerakan harga nikel dalam waktu dekat.
Menurut Scott-Gray, penguatan harga saat ini mencerminkan respons pasar terhadap risiko pasokan. Investor cenderung memperhitungkan dampak kebijakan produksi Indonesia sebagai faktor utama.
Namun, ia juga mengingatkan bahwa Indonesia secara historis berupaya mencegah harga nikel bertahan di atas US$18.000 per ton dalam waktu lama. Hal ini dilakukan karena harga yang terlalu tinggi berisiko mengganggu daya saing sektor kendaraan listrik domestik.
Peringatan tersebut menunjukkan bahwa kenaikan harga nikel memiliki batas tertentu. Pemerintah Indonesia diperkirakan akan tetap menjaga keseimbangan antara keuntungan ekspor dan keberlanjutan industri hilir.
Dalam konteks ini, pasar menilai penguatan harga nikel mungkin bersifat jangka pendek hingga menengah. Jika harga terlalu tinggi, kebijakan lanjutan dapat diambil untuk menstabilkan pasar.
Investor pun mencermati langkah-langkah pemerintah Indonesia ke depan. Setiap sinyal perubahan kebijakan berpotensi memicu pergerakan harga yang signifikan.
Kenaikan harga nikel juga berdampak pada sektor industri hilir, terutama produsen baterai dan kendaraan listrik. Harga bahan baku yang lebih tinggi dapat meningkatkan biaya produksi dan memengaruhi harga jual produk akhir.
Meski demikian, permintaan jangka panjang terhadap nikel diperkirakan tetap kuat. Transisi energi global dan pertumbuhan kendaraan listrik terus menjadi pendorong utama konsumsi nikel.
Kondisi ini membuat pasar nikel berada dalam situasi yang cukup kompleks. Di satu sisi, pasokan dibatasi, sementara di sisi lain permintaan jangka panjang tetap meningkat.
Dengan kombinasi tersebut, volatilitas harga nikel diperkirakan akan tetap tinggi. Investor pun perlu mencermati perkembangan kebijakan dan dinamika permintaan global secara berkelanjutan.
Pergerakan Logam Lain Ikut Menguat
Selain nikel, harga tembaga juga menguat pada Kamis. Penguatan ini didukung oleh pelemahan dolar AS yang membuat komoditas berdenominasi dolar lebih terjangkau bagi investor pemegang mata uang lain.
Kondisi tersebut mendorong minat beli di pasar logam industri. Investor melihat peluang untuk masuk ke pasar komoditas di tengah fluktuasi nilai tukar.
Kontrak tembaga paling aktif di Shanghai Futures Exchange naik 0,45 persen menjadi 102.390 yuan per ton. Sementara itu, kontrak tiga bulan di London Metal Exchange bertambah 0,42 persen ke US$13.221,50 per ton.
Kenaikan ini menunjukkan bahwa sentimen positif tidak hanya terbatas pada nikel. Logam dasar lainnya juga ikut terdorong oleh faktor makroekonomi global.
Di Shanghai Futures Exchange, aluminium menjadi satu-satunya logam dasar yang melemah tipis 0,08 persen. Sebaliknya, seng naik 0,41 persen, timbal menguat 0,06 persen, dan timah melonjak 0,84 persen.
Pergerakan yang bervariasi ini mencerminkan dinamika masing-masing pasar logam. Setiap komoditas memiliki faktor fundamental tersendiri yang memengaruhi pergerakan harganya.
Di London Metal Exchange, aluminium naik 0,50 persen dan seng bertambah 0,68 persen. Timah juga menguat 0,70 persen, sedangkan timbal stagnan.
Kinerja positif sebagian besar logam dasar ini menunjukkan adanya sentimen risk-on di pasar komoditas. Investor cenderung mengambil posisi beli di tengah pelemahan dolar AS.
Penguatan ini juga mencerminkan ekspektasi terhadap permintaan industri yang tetap solid. Sektor manufaktur global diperkirakan masih membutuhkan pasokan logam dasar dalam jumlah besar.
Namun, pasar tetap mencermati potensi perlambatan ekonomi global. Setiap sinyal pelemahan permintaan dapat memicu koreksi harga di pasar logam.
Prospek Pasar Logam di Tengah Kebijakan Produksi Indonesia
Pemangkasan kuota produksi nikel oleh Indonesia menjadi sinyal penting bagi pasar logam global. Kebijakan ini menunjukkan bahwa negara produsen utama semakin aktif mengatur pasokan untuk menjaga stabilitas industri.
Dengan posisi Indonesia sebagai pemain kunci di pasar nikel, setiap perubahan kebijakan memiliki dampak luas. Investor global pun semakin memperhatikan arah kebijakan pemerintah Indonesia dalam sektor pertambangan.
Di sisi lain, permintaan jangka panjang terhadap nikel tetap kuat seiring pertumbuhan industri kendaraan listrik. Hal ini membuat pasar nikel berada dalam situasi tarik-menarik antara pembatasan pasokan dan peningkatan permintaan.
Kondisi tersebut berpotensi menjaga harga nikel tetap berada di level relatif tinggi. Namun, pemerintah Indonesia diperkirakan akan terus mengawasi pergerakan harga agar tidak terlalu membebani industri hilir.
Sementara itu, pergerakan positif pada logam lain seperti tembaga dan timah menunjukkan bahwa sentimen pasar logam secara keseluruhan cukup kondusif. Pelemahan dolar AS turut menjadi faktor pendukung bagi komoditas berdenominasi dolar.
Namun, volatilitas tetap menjadi ciri utama pasar logam dalam jangka pendek. Investor harus siap menghadapi perubahan sentimen yang cepat akibat perkembangan kebijakan dan kondisi makroekonomi.
Dalam konteks global, pasar logam kini berada dalam fase penyesuaian terhadap kebijakan produksi dan permintaan industri. Perubahan di satu komoditas sering kali memengaruhi pergerakan komoditas lainnya.
Oleh karena itu, pelaku pasar perlu mencermati berbagai faktor secara simultan. Kebijakan pemerintah, kondisi ekonomi global, dan tren industri menjadi variabel penting dalam menentukan arah harga.
Kenaikan harga nikel pada 12 Februari 2026 menjadi contoh bagaimana kebijakan nasional dapat berdampak global. Pasar pun terus memantau perkembangan selanjutnya terkait revisi kuota produksi Weda Bay.
Dengan berbagai faktor tersebut, prospek pasar logam diperkirakan tetap dinamis dalam beberapa bulan ke depan. Investor diharapkan tetap waspada sekaligus adaptif terhadap perubahan kondisi pasar.
Zahra
indikatorbisnis.com adalah media online yang menyajikan berita sektor bisnis dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.
Rekomendasi
Hasil Liga Inggris: Liverpool Menang Tipis dan "Beruntung" Saat Menghadapi Sunderland
- Kamis, 12 Februari 2026
Prediksi Pisa vs AC Milan: Pertarungan Sengit di Hari Valentine Serie A 2026
- Kamis, 12 Februari 2026
Serie A Pekan 24: Jadwal Padat dan Kondisi Kebugaran Pemain Menjadi Sorotan Utama
- Kamis, 12 Februari 2026
Berita Lainnya
Strategi Baru DKI Jakarta Amankan Pasokan Beras Jelang Ramadan Melalui Kolaborasi Petani Daerah
- Kamis, 12 Februari 2026
Pemerintah Perkuat Perlindungan Sawah dan Petani Kecil Melalui Pengendalian Alih Fungsi Lahan
- Kamis, 12 Februari 2026
Pemerintah Dorong Proyek DME Batu Bara Disebut Wajib Libatkan Teknologi CCUS
- Kamis, 12 Februari 2026
Harga Minyak Dunia Menguat Dipicu Ketegangan Amerika Iran Dan Dinamika Pasokan Global
- Kamis, 12 Februari 2026












